3 Rekomendasi Film Mandarin Terbaik untuk Belajar Kebudayaan Tiongkok

Film merupakan salah satu alat terbaik untuk mempelajari kebudayaan dan bahasa asing dan juga paling menyenangkan. Kamu hanya tinggal melihat apa yang disajikan dan secara otomatis, otak mu menyerap informasi yang masuk. Film Mandarin merupakan salah satu sarana untuk belajar bahasa Mandarin dan budayanya. Berikut 3 rekomendasi film Mandarin terbaik untuk belajar tentang kebudayaan Tiongkok.

The Last Emperor

Berjudul asli L’ultimo Imperatore, The Last Emperor merupakan film Italia-Inggris yang menceritakan tentang kehidupan Emperor Puyi (溥儀), emperor Tiongkok yang terakhir. Puyi naik tahta menjadi seorang emperor di usia 2 tahun 10 bulan pada Desember 1908.

Film ini merupakan salah satu film biografi terbaik sepanjang masa dan berhasil memenangkan berbagai penghargaan termasuk 9 Piala Oscar pada tahun 1988. Kamu bisa belajar tentang budaya Cina (Tiongkok) dari sudut pandang seorang anak yang menjadi raja di usia yang sangat belia. Bagaimana orang-orang beinteraksi dengan pemimpin dan bagaimana mereka memperlakukan seorang pemimpinnya,

In the Heat of the Sun

In the Heat of the Sun atau dalam bahasa Mandarin berjudul 陽光燦爛的日子 (Yángguāng cànlàn de rìzi—Days of the Bright and Lush Sunshine) adalah sebuag film Mandarin yang dirilis pada tahun 1994. Film ini menceritakan tentang Ma Xiaojun yang hidup di Beijing pada era Revolusi Kebudayaan (1966-1976). Ma Xiaojun adalah seorang remaja yang hidup di jalanan karena orangtuanya sangat sibuk dan sistem pemdidikan saat itu kurang baik sehingga anak-anak memiliki banyak waktu luang.

Kamu dapat melihat kehidupan seorang anak remaja di era komunisme Tiongkok. Era di mana Mao Zedong berkuasa dan di Tiongkok saat itu sedang marak terjadinya kekerasan, pelecehan, dan perampasan properti.

The Piano in a Factory

Berlatar di 1990-an, Chen Guilin, seorang pekerja yang diberhentikan dari perusahaan tempat ia bekerja dan di waktu yang bersamaan, ia dikhianati oleh istrinya yang menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya raya. Chen Guilin dan istrinya memiliki seorang anak perempuan, syarat untuk mendapatkan hak asuh anaknya adalah dengan memberi sang anak sebuah piano.

Chen berusaha dengan melakukan apapun unutk memerikan sang anak sebuah piano walau harus mencuri. Semua cara telah dilakukan dan Chen pun akhirnya gagal.  Akhirnya, ia memutuskan untuk membuat sebuah piano bersama teman-temannya.

Chen dan teman-temannya membuat sebuah piano yang terbuat dari baja. Lalu ia membuat sebuah grup musik untuk mencari nahfah dan di sanalah ia mendapatkan kebijaksaan untuk memperbaiki hidupnya dengan penuh warna.

Dalam film ini, kamu akan disajikan budaya Cina dari sisi perceraian dan hak asuh anak. Memang terdengar menyedihkan tapi ini merupakan sisi unik dan tak banyak yang membahas sehingga kamu akan mendapatkan sebuah sudut pandang baru tentang suatu hal.

Baca Juga: Mengenal Huruf-Huruf Bahasa Mandarin

Related posts

Leave a Comment