Gaya Klasik Masjid Agung Jawa Tengah

By | October 16, 2020

Masjid Agung Jawa Tengah – Gaya Klasik Masjid Agung Jawa Tengah ini mempunyai gaya klasik atau gaya khas tersendiri. Masjid Agung Jawa Tengah (Semarang) telah dirancang dengan gaya yang futuristik. Apalagi banyak kabar atau gosip yang menyebar dari web yang terpercaya, bahwasannya masjid ini dirancang dengan konsep bangunan gabungan antara Jawa dan Yunani.

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Semarang memiliki payung “hidrolik” raksasa yang bisa membuka dan menutup sendiri optimatis, jika Anda pergi dan berkunjung ke Madinah pasti sama.

Itulah pembukaan nya, langsung saja. Kami akan mengenalkan lebih dekat, dari sejarah Masjid Agung Jawa Tengah sampai kejadian apa yang terjadi di Masjid ini.

Lokasi Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah ini termasuk masjid termegah di provinsi jawa tengah dan letaknya sendiri berada di Kota Semarang.

Nah, perlu Anda tahu masjid ini terbangun sejak tahun 2001, selesai atau rampung nya sendiri secara keseluruhan pada tahun 2006. Masjid Agung Jawa Tengah ini berdiri di atas lahan dengan luas 10 hektare.

Bangunan masjid ini diresmikan oleh Presiden ke 6 kita, yakni Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006. Masjid Agung Jawa Tengah atau (MAJT) ini termasuk masjid terbesar dan termegah di Provinsi Jawa Tengah.

Nah, sejak Juni 2017. Masjid ini sudah mempunyai satu unit stasiun televisi, yakni MAJT TV yang berkerjasama dengan TVKU kota Semarang.

Sejarah Awal Berdirinya Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah

Berdirinya atau pembangunan masjid ini masih ada kaitannya dengan Masjid Besar Kauman Semarang. Pembangunan MAJT ini berawal dengan tanah banda atau “harta” wakaf.

Tanah wakaf ini sendiri milik Masjid Besar Kauman Semarang yang sudah sekian lama tak tentu rimbnya. Tanah wakaf ini sendiri asalnya dari proses tukar guling tanah Masjid Kauman seluas 119.127 ha dengan pengelolaan yang dipegang BKM (Badan Kesejahteraan Masjid).

Perihal di atas tersebut itu semua merupakan bentukan Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengan. Dikarenakan tanah tersebut tidak produktif, oleh BKM sendiri ditukar guling dengan tanah seluas 250 ha di Kota Demak lewat PT. Sambirejo. Setelah itu berpindah tangan ke PT. Tensindo milik Tjipto Siwoyo.

Benda wakaf atau tanah ini setelah banyak perjuangan mengembalikan itu akhirnya berbuah hasil sesudah melalui perjuangan yang pahit. MAJT atau Masjid Agung ini dibangun di atas salah petak tanah benda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang yang sudah kembali.

Peresmian Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah

Pada Awal Bulan Juni 2001, Gubernur Jawa Tengah telah membentuk Tim Koordinasi Pembangunan Masjid MAJT, tujuannya menangani masalah-masalah dari mendasar atau masalah teknisnya. Berkat niat yang baik dan silaturahim yang erat, dalam waktu kerja yang begitu singkat.

Akhirnya keputusan-keputusan pokok sudah diputuskan, yakni status tanah, persetujuan pembiayaan dari APBD oleh DPRD Jawa Tengah, sampai pemilihan lahan tapak serta program uang.

Selanjutnya, pembangunan masjid Agung Jawa Tengah dimulai pada hari Jum’at, pada tanggal 6 September 2002 yang telah ditandai dengan pemasangan batu pertama dan pemasangan tiang pancang perdana.

Pelaksanaan perdana tersebut dilaksanakan para, Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Saig Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto. Pemasangan tiang pancang pertama ini juga dihadiri tujuh duta besar, negara-negara sahabat.

Negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Palestina, dan Abud Dhabi. Mata dan perhatian dunia internasional pun mendukung dibangunnya Masjid Agung Jawa Tengah.

Pembiayaan Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah diresmikan dan telah dibuka umum tgl 14 November 2006, presiden 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Masjid dengan seluas 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk shalat 7.669 meter persegi secara keseluruhan pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah ini menelan biaya sebesar Rp 198.692.340.000.

Tanggal 14 November 2006 telah diresmikan MAJT ini, akan tetapi masjid ini mulai difungsikan untuk ibadah sebelumnya tanggal itu. Perlu Anda tahu masjid megah ini sudah dipakai ibadah Shalat Jumat untuk pertama-tamanya pada tanggal 19 Maret 2004 dengan Khatib Drs. H. M. Chatib Thoha, MA, (Kakanwil Depag Jawa Tengah).

Fasilitas dan Aksesoris Indah di Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah

Jika Anda berkunjung ke MAJT, di dalamnya ada Menara Asma Al-Husna dengan tinggi 99 Meter. Terdiri dari lantai 1, dengan digunakan Studio DAIS MAJT dan pemanjar TV KU. Lantai 2, digunakan museum Perkembangan Islam Jawa Tengah.

Lantai 18, digunakan untuk rumah makan berputar, lantai 19 merupakan Gardu kota Semarang dan Tempat rukyat al-hilal.

Serambi Masjid Agung Jawa Tengah telah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis, seperti Anda pergi ke Masjid Nabawi. Tinggi masing-masing payung elektrik, 20 meter dengan diameter payung 14 meter. Payung elektrik dibuka setiap shalat Jum’at, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha apabila situasi angin tidak melebihi 200 knot.

Akan tetapi, pengunjung MAJT tak pernah sepi, terus ingin melihat proses mengambangnya payung elektrik ini. Langsung dapat menghubungi pengurus masjid.

Masjid Agung Jawa Tengah memiliki koleksi Al-Qur’an raksasa, ukuran 145 x 95 cm². Ditulis langsung oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber, Mojotengaj, Wonosobo. Lokasi nya sendiri di dalam ruang bedug Pendowo Purworejo.

Al-Qur’an raksasa ini dibuat oleh para santri pondok pesantren Al-Falah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, asuhan KH. Ahmad Sobri, memakai kulit khusus, yakni kulit lembu dari Australia.

Tongkat Khatib di Masjid Jawa Tengah untuk sholat Jum’at, merupakan tongkat pemberian oleh Sultan Hassanal Bolkiah langsung dari Brunei Darussalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *